Pagi selalu datang dengan ritual yang sama di sudut kedai tua langganan Dimas. Suara denting sendok kecil yang beradu dengan dinding keramik cangkir, aroma biji robusta sangrai yang menguar pekat, serta kepulan uap tipis yang menari-nari di udara sebelum akhirnya pecah dan lenyap ditelan angin.
Bagi Dimas, cangkir kopi hitam di depannya bukan sekadar pelepas penat. Cangkir itu adalah sebuah monumen kecil bagi kenangan tentang Maya.
Maya adalah perempuan yang datang ke dalam hidup Dimas tanpa aba-aba, laksana badai musim semi yang hangat namun singgah sebentar saja. Hubungan mereka tidak pernah diikat oleh kepastian waktu atau janji-janji masa depan yang muluk. Maya selalu berkata bahwa hidup manusia terlalu rapuh untuk disarati oleh ekspektasi yang kekal.
"Suatu hari akan kautemukan aku sebagai uap dalam cangkir kopimu; segala yang sementara, yang cepat raib begitu saja," ucap Maya suatu sore, tepat sebelum ia benar-benar pergi membawa seluruh barangnya, meninggalkan Dimas dengan keheningan yang panjang.
Tahun berganti tahun. Dimas tetap memesan kopi hitam tanpa gula setiap kali ia merindukan aroma masa lalu. Matanya kerap terpaku pada permukaan cairan hitam legam yang mengepulkan panas.
Di detik-detik awal saat air baru saja dituangkan, uap putih itu mengepul tebal, membentuk siluet-siluet abstrak yang menyerupai garis wajah seseorang. Bentuknya begitu nyata, seolah-olah Maya sedang duduk tepat di hadapannya, tersenyum dengan mata sabit yang menyipit.
Namun, hukum fisika tidak pernah bisa diajak kompromi. Semakin lama Dimas menatap, semakin tipis pula kepulan itu. Garis-garis wajah yang tadinya menyerupai Maya mulai memudar, menipis, dan akhirnya benar-benar raib di udara kosong, menyisakan cairan pahit yang perlahan mendingin.
Dimas tidak pernah mencoba menahan uap itu. Ia tahu, mencoba menggenggam uap sama artinya dengan melukai telapak tangan sendiri oleh kekosongan. Maya benar. Perempuan itu adalah wujud dari kefanaan itu sendiri—hadir untuk menghangatkan pagi yang dingin, memberikan rasa yang pekat di lidah ingatan, namun takdirnya memang diciptakan untuk cepat menguap, tak meninggalkan bekas selain basah tipis di dinding cangkir yang perlahan kering.
Setiap kali uap itu habis, Dimas menyeruput kopinya dalam-dalam. Ada rasa pahit yang menjalar di tenggorokan, tetapi ada pula ketenangan yang meresap ke dalam dada. Ia belajar untuk menerima bahwa tidak semua hal di dunia ini diciptakan untuk tinggal menetap. Beberapa orang memang ditakdirkan hanya untuk singgah sengepul uap kopi, meninggalkan kehangatan sesaat sebelum benar-benar lenyap ditelan waktu.**
0 Komentar