Dinding-dinding itu tidak berplester semen, melainkan tumpukan lelah yang dibiarkan mengeras selama bertahun-tahun. Di dalam ruangan sempit ini, waktu kehilangan detaknya. Tidak ada jam dinding, tidak ada kalender yang menggantung. Hanya ada udara pengap dan dua napas yang berkejaran dalam keheningan.
Arun duduk bersila di sudut barat, menatap jemarinya sendiri
yang gemetar. Matanya menyiratkan kepedihan yang teramat sangat, sebuah
kerinduan purba yang mendesak dada setiap kali malam merayap turun.
"Aku ingin pulang," bisik Arun, suaranya nyaris
tenggelam oleh dengung sunyi di kepala.
Bagi Arun, rumah bukan lagi sekadar bangunan beratap genteng
di suatu kota asing, melainkan sebuah pelukan tempat ia bisa meletakkan seluruh
beban dunia. Rumah adalah kepastian, tempat di mana ia tidak perlu lagi
berpura-pura kuat, tempat di mana langkah kakinya diizinkan berhenti tanpa
merasa bersalah.
Di sudut seberang, berjarak hanya beberapa meter namun
terasa terbentang jutaan galaksi, Kirana termenung memeluk lututnya.
Pandangannya kosong, menembus dinding tak kasat mata yang membatasi mereka.
"Aku hanya ingin hilang," balas Kirana pelan,
hampir tak bergeming.
Bagi Kirana, dunia luar adalah bising yang menyiksa. Setiap
tatapan manusia, setiap tuntutan hidup, dan setiap kenangan buruk adalah
duri-duri tajam yang terus merobek kulit batinnya. Ia tidak mencari pelabuhan
atau tempat untuk berlabuh. Ia justru ingin larut dalam ketiadaan, melebur
bersama angin malam, dan menjadi debu yang tak lagi dikenali oleh siapa pun.
Dua keinginan yang bertolak belakang itu bertemu di satu
titik yang ganjil.
Satu sisi merindukan kepulangan, mencari arah kompas untuk
kembali merajut sisa hidup. Sisi lainnya ingin lenyap, memutus segala ikatan
dan menghapus jejak tapak kaki.
Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah paradoks.
Karena keduanya sama-sama lelah dengan dunia luar yang bising dan menuntut,
mereka sepakat tanpa suara.
Maka, tangan-tangan yang terluka itu bergerak. Mereka tidak
membangun rumah dengan jendela yang memperlihatkan lanskap hijau. Mereka tidak
pula menggali lubang pelarian yang terang. Perlahan, sekat-sekat keputusasaan
dan kerinduan itu dirajut menjadi satu arsitektur batin yang pekat.
Mereka membangun ruang tanpa pintu.
Di tempat itu, Arun bisa merasuki keheningan tanpa harus
tersesat di jalan raya kehidupan, sementara Kirana mendapati dirinya ditemani
oleh seseorang yang memahami sunyinya tanpa perlu menuntut penjelasan. Ruang
itu kedap dari dunia luar, tidak memiliki daun pintu untuk keluar, pun tidak
memiliki engsel untuk dimasuki siapa pun.
Mereka terkunci bersama di dalam paradoks keinginan
masing-masing: yang satu merasa di dalam rumah, sementara yang lain merasa
sedang menghilang dari kenyataan yang kejam.**

0 Komentar