RINTIK hujan baru saja reda ketika aku melangkah keluar dari lobi gedung perkantoran di kawasan Sudirman. Udara Jakarta sore itu terasa lebih dingin dari biasanya, membawa aroma petrikor yang menguar dari aspal basah. Aku merapatkan kerah mantel, berbaur dengan ratusan pekerja komuter yang bergegas menuju stasiun MRT. Di tengah lautan manusia yang bergerak cepat, langkahku justru melambat.
Pikiranku terlempar pada satu waktu. Tepatnya, pada akhir
pertemuan kita dua bulan yang lalu.
Hari itu tidak ada langit mendung atau drama tangisan. Kita duduk berhadapan di sebuah kedai kopi bernuansa kayu di sudut Kemang. Di atas meja, dua cangkir americano telah kehilangan kehangatannya, sama seperti obrolan kita yang mulai kehabisan kata-kata.
"Kita sudah sampai di ujung jalan, ya, Ra?"
tanyamu saat itu. Suaramu begitu tenang, namun aku tahu ada benteng pertahanan
yang susah payah kau bangun agar suaramu tidak bergetar.
Aku hanya tersenyum tipis, mengangguk pelan. Kita adalah dua
orang dewasa yang dipaksa menyerah oleh realitas. Kariermu menuntutmu menetap
di belahan benua lain, sementara aku memiliki akar tanggung jawab yang tak
mungkin kucabut dari kota ini. Kita menyadari bahwa memaksakan kompromi hanya
akan saling menyakiti.
Pertemuan itu ditutup dengan sebuah pelukan singkat di
pelataran parkir. Tidak ada kata "selamat tinggal", hanya ucapan
"hati-hati di jalan". Namun, saat punggungmu menjauh dan menghilang
di balik pintu taksi, aku tahu ada sesuatu yang tertinggal dan menetap di
dadaku.
Masih tersisa rindu, yang mengendap diam-diam di akhir
pertemuan itu.
Suara denting pengumuman kedatangan kereta membuyarkan
lamunanku. Pintu kaca MRT terbuka otomatis. Aku melangkah masuk, mencari tempat
bersandar di sudut gerbong yang penuh sesak. Kaca jendela memantulkan bayangan
wajahku—seorang wanita karier berusia akhir dua puluhan yang tampak tangguh,
namun menyembunyikan sebuah labirin sunyi di dalam kepalanya.
Hari-hariku setelah perpisahan itu berjalan seperti biasa.
Aku tetap menjadi Rara yang perfeksionis. Aku memimpin rapat, menyelesaikan
laporan kuartal perusahaan, bertemu klien, dan tertawa bersama rekan kerja saat
jam istirahat. Dari luar, roda kehidupanku berputar dengan sangat baik.
Namun, mereka tidak tahu bahwa rindu itu tidak pernah
benar-benar pergi. Ia menjelma menjadi bayangan yang terus mengikutiku ke mana
pun aku melangkah.
Rindu itu hadir di sela-sela denting sendok saat aku
mengaduk kopi di pagi hari. Ia menyusup melalui aroma parfum maskulin yang
kebetulan lewat di koridor kantor. Ia bahkan sering kali menyapa di tengah
malam, saat aku membuka laptop dan menatap kursor yang berkedip di layar,
mengingatkanku pada pesan-pesan singkatmu yang dulu selalu menemani waktu
lemburku.
Awalnya, aku mencoba melawan. Aku menenggelamkan diri dalam
tumpukan pekerjaan hingga kelelahan ekstrem, berharap rindu itu akan mati
lemas. Namun, semakin keras aku menolak kehadirannya, semakin kuat ia
mencengkeram.
Hingga akhirnya, di sebuah sore yang lelah, aku berhenti
melawan.
Aku menyadari bahwa kedewasaan bukan tentang bagaimana kita
menghapus kenangan, melainkan bagaimana kita berdamai dengannya. Aku menghela
napas panjang, menatap lanskap kota yang melesat cepat dari balik jendela
kereta yang melaju.
Ya, masih ada rindu. Dan mungkin, rindu ini tidak akan
pernah benar-benar pudar. Namun, dunia tidak akan berhenti berputar hanya
karena aku kehilangan satu porosnya. Aku harus terus meniti hidup. Aku harus
terus melangkah maju, menyelesaikan tanggung jawabku, dan meraih mimpi-mimpiku.
Jika rindu ini bersikeras untuk terus mengikutiku, maka
biarlah. Aku tidak akan lagi memusuhinya. Biarlah ia menjadi teman perjalanan
bisu yang mengingatkanku bahwa aku pernah mencintai seseorang dengan begitu
hebat, dan pernah melepaskan dengan sangat elegan.
Kereta perlahan berhenti di stasiun tujuanku. Pintu terbuka,
menyilakan udara sore menyapu wajah. Aku merapikan tas selempangku, mengangkat
dagu, dan melangkah keluar dengan langkah yang mantap.
Aku siap meniti hidup hari ini, esok, dan seterusnya berjalan
beriringan bersama rindu yang kini tak lagi membebani, melainkan mendewasakan.**

0 Komentar