Aceh di Atas Megathrust: Tenang atau Mati Rasa?

Nazier
0

Di banyak sudut pesisir dan wilayah daratan Aceh, pemandangan sehari-hari tampak berjalan lumrah. Namun, di balik rutinitas itu, tersimpan anomali yang mencemaskan: jalur evakuasi yang aspalnya mulai terkelupas dan berlubang, hingga pengeras suara sirine peringatan dini tsunami yang bertahun-tahun membisu tanpa pemeliharaan rutin.

 

Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar yang diangkat dalam perbincangan publik mengenai refleksi tulisan Tabrani Yunis: benarkah masyarakat dan pemangku kebijakan tengah terlelap di atas potensi bahaya katastropik yang bisa berulang sewaktu-waktu?


Aceh sejatinya berada dalam cengkeraman dua lapis kerentanan alam yang berjalan beriringan: ancaman geologi dan ancaman hidrometeorologi. Di satu sisi, lempeng tektonik lepas pantai menyimpan energi megathrust yang belum terlepas seluruhnya, sementara di daratan, patahan aktif Sesar Semangko (The Great Sumatran Fault) mengintai sepanjang punggung perbukitan. 


Di sisi lain, degradasi ekologis dan alih fungsi lahan seperti danau resapan alami yang menjelma menjadi kawasan hunian komersial telah memicu siklus banjir bandang yang kian rutin, sebagaimana pernah melanda kawasan Aceh Tamiang dan sekitarnya.


Dua Matriks Bahaya yang Kerap Dipisahkan


Kelemahan paling jamak dalam narasi mitigasi adalah kecenderungan membedakan bencana geologi dengan bencana hidrometeorologi secara kaku. Bencana tektonik sering kali dipandang sebagai peristiwa takdir tak terduga yang datang dalam hitungan abad atau dekade, sedangkan banjir dan longsor dianggap problem musiman belaka.


Padahal, keduanya bermuara pada titik temu yang sama: tata ruang yang rapuh dan ketidakmampuan sistem merespons krisis secara terpadu. 


Ketika wilayah tangkapan air dirusak demi pembangunan permukiman, daya lenting lingkungan anjlok drastis. Akibatnya, sebelum gempa besar berikutnya melepaskan energinya, masyarakat sudah lebih dulu dihantam limpasan air bah dan sedimentasi lumpur yang melumpuhkan sendi-sendi ekonomi.


Mengurai Psikososial: Apakah Tenang Berarti Abai?


Melihat sikap masyarakat yang tampak santai di tengah potensi risiko tinggi acap kali disimpulkan sebagai ketidakpedulian atau ketidaktahuan. Namun, pendekatan multidisipliner mulai dari kacamata sosiologi risiko, geologi kegempaan, hingga psikologi trauma komunitas—menunjukkan lapisan realitas yang berbeda.


Bagi komunitas yang pernah melewati kehancuran total di masa lalu, ketenangan lahiriah sering kali bukan cerminan sikap masa bodoh, melainkan manifestasi dari mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) menghadapi luka kolektif yang belum sepenuhnya tuntas. 


Hidup dalam kewaspadaan ekstrem setiap hari tanpa kepastian sarana mitigasi yang andal justru menimbulkan kelelahan mental (fatigue). Akibatnya, ketidakberdayaan itu bertransformasi menjadi rasa pasrah yang semu.


Di sinilah peran negara dan literasi publik diuji: bagaimana mentransformasi kepasrahan emosional menjadi kewaspadaan terstruktur tanpa menimbulkan kepanikan irasional.


Bukan Proyek Sesaat, Melainkan 'Kerja Rawat'


Salah satu kritik terbesar terhadap tata kelola pengurangan risiko bencana adalah cara pandang yang menjadikannya sebatas proyek fisik temporer. 


Pembangunan shelter vertikal, pengadaan alat sensor, maupun pembuatan plang evakuasi kerap dirayakan pada fase peresmian, tetapi minim anggaran perawatan jangka panjang. 


Menjaga fungsi sirine tetap berbunyi, memastikan jalan pelarian tetap layak dilalui kendaraan darurat, serta merawat disiplin simulasi evakuasi mandiri seharusnya diposisikan sebagai "kerja rawat" yang tidak pernah selesai.


Kesiapsiagaan bukanlah tameng yang baru dicari ketika awan gelap sudah menurunkan hujan badai atau saat bumi mulai berguncang hebat. 


Keberlanjutan Aceh ke depan ditentukan oleh kemampuannya menata ulang hubungan antara manusia, ruang hidup, dan ancaman alamiah yang menyertainya mengubah narasi dari sekadar bertahan hidup menjadi peradaban yang sadar risiko secara paripurna.[]

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default