DALAM jagat literatur, bahasa sering kali menjadi alat yang paling lentur sekaligus paling menipu. Manusia terlampau lihai merangkai aksara menjahit kata demi kata menjadi kalimat-kalimat indah yang memuja, menyembunyikan duka, atau bahkan menyamarkan niat yang sesungguhnya. Kita bisa menggunakan metafora yang rumit dan alunan diksi yang puitis untuk membangun benteng pertahanan emosi atau untuk melambungkan harapan semu. Namun, sehebat apa pun aksara berupaya memanipulasi logika dan menipu rasa, pada akhirnya, ia akan menemukan titik jenuhnya. Pertahanan itu akan runtuh seketika saat berhadapan dengan satu elemen fundamental dalam puisi: rima.
Rima bukan sekadar persamaan bunyi di akhir baris yang
memberikan keindahan musikalitas semata. Dalam konteks relasi antarmanusia,
rima adalah resonansi getaran yang sama yang ditemukan pada dua entitas yang
berbeda. Ketika aksara-aksara yang telah disusun rapi itu dibacakan, maknanya
tidak lagi ditentukan oleh penulisnya, melainkan oleh bagaimana rima tersebut
menyentuh hati pembacanya. Jika tidak ada kejujuran rasa di balik aksara
tersebut, rima akan terdengar sumbang dan hampa. Sebaliknya, jika aksara itu
lahir dari kejujuran, rima akan mengikat bait-bait tersebut menjadi sebuah
kebenaran yang tak terbantahkan.
Inilah yang membawa kita pada perenungan mendalam mengenai
sebuah frasa: "Sajak kita, adalah kebetulan yang terencana."
Jika kita melihat kehidupan sebagai sebuah naskah besar yang
ditulis oleh Sang Maha Pencipta, maka pertemuan antara dua insan, persahabatan,
atau kisah cinta, sering kali bermula dari serangkaian peristiwa yang tampak
acak dan kebetulan. Kita mungkin menyebutnya sebagai takdir, nasib, atau
sekadar kebetulan yang membahagiakan. Kita bertemu seseorang di tempat yang
tidak terduga, pada waktu yang tidak direncanakan, karena sebuah alasan yang
sepele. Pada fase ini, pertemuan itu terasa seperti sebuah
"kebetulan" yang murni, sebuah anomali statistik dalam kehidupan kita
yang monoton.
Namun, seiring berjalannya waktu, ketika
"kebetulan" itu terjalin semakin erat, kita mulai melihat pola yang
lebih besar. Rangkaian peristiwa yang tadinya tampak acak mulai tersusun rapi
membentuk sebuah bait yang bermakna. Kebetulan-kebetulan kecil itu ternyata
bukanlah sebuah kekacauan, melainkan elemen-elemen yang disengaja untuk
mempertemukan dua rima yang beresonansi. Kita menyadari bahwa ada tangan tak
terlihat yang merencanakan skenario pertemuan ini dengan sangat teliti, jauh
sebelum aksara pertama dalam kisah hidup kita dituliskan.
Oleh karena itu, frasa tersebut mengajarkan kita tentang
kerendahan hati dan penerimaan. Bahwa dalam setiap pertemuan yang berujung pada
penyatuan rasa, ada keindahan dari sebuah rencana Ilahi yang melampaui
batas-batas logika manusia dan kelihaian kita dalam merangkai kata.
Aksara-aksara yang kita gunakan untuk mendeskripsikan pertemuan itu mungkin
terbatas, namun rima yang tercipta dari kebetulan yang terencana itu adalah bukti
bahwa kisah kita ditulis dengan tinta kebenaran yang meluluhkan segala
kepura-puraan. Pada akhirnya, kita hanyalah bait-bait dalam puisi semesta, yang
dipertemukan oleh rima yang telah lama direncanakan untuk saling melengkapi.[]

0 Komentar