ADA kecenderungan purba dalam benak manusia untuk selalu menuntut keutuhan. Kita menyukai lingkaran yang purna, nasib yang lurus, serta kepemilikan yang tak pernah susut. Maka, ketika sebagian dari kepenuhan hidup tiba-tiba tergerus tanpa alasan yang transparan, prasangka pertama yang kerap terbit adalah kekecewaan. Manusia acap menuduh semesta sedang bersikap lalim atau sekadar bersenda gurau di atas kepedihan fana saat apa yang semula bundar mendadak terpangkas separuh.
Ketidakmampuan kita memeluk kekosongan melahirkan protes
eksistensial. Kita merasa tercurangi oleh waktu, meratapi kenapa cahaya yang
benderang harus menyempit menjadi garis lengkung yang sunyi. Pada fase ini,
hilangnya kelengkapan selalu dipandang sebagai bentuk kesia-siaan, kemalangan
yang datang tanpa rancangan logis. Kita beranggapan bahwa kebahagiaan hanya sah
bilamana segalanya berwujud penuh tanpa cacat.
Namun, drama batin manusia menyimpan ironi yang menawan.
Seiring berlalunya guncangan, sudut pandang sering kali bermetamorfosis.
Kehilangan yang semula terasa mencabik perlahan memperlihatkan fungsi barunya.
Bentuk yang tak lagi bundar justru menciptakan ruang tampung yang tak pernah
terpikirkan sebelumnya. Seperti lengkungan sempit yang kemudian disadari dapat
menjadi tumpuan istirahat atau ayunan untuk menenangkan jiwa yang letih,
keterbatasan hidup ternyata mampu menjadi titik tolak lahirnya kearifan.
Di titik inilah manusia kerap membalik pengakuannya. Takdir
yang mulanya digugat secara sengit, kemudian diangkat kembali menjadi keadilan
tertinggi. Kita mendadak menemukan alasan untuk memuji, membenarkan setiap luka
masa lalu karena kini ia tampak berguna. Pola ini memperlihatkan betapa rapuh
sekaligus pragmatisnya ukuran keadilan dalam kalkulasi manusia: sesuatu baru
kita sebut adil ketika kita telah berhasil merajut manfaat dari sisa-sisa
reruntuhannya.
Kendati demikian, kedewasaan spiritual dan emosional
sesungguhnya tidak menuntut manusia menanti sampai sebuah kehilangan berubah
menjadi piala kenyamanan. Mengimani alur hidup berarti mengakui bahwa fase
menyusut adalah bagian organik dari gerak eksistensi itu sendiri, sama wajarnya
dengan fase melimpah. Kepenuhan dan kerapuhan hanyalah dua wajah dari napas
yang sama.
Pada akhirnya, hidup tidak dirancang untuk terus-menerus
bulat dan tanpa celah. Barangkali, sebagian hal sengaja dipatahkan bukan untuk
menghukum, melainkan untuk memberi ruang bagi manusia agar mampu belajar
berayun menemukan keanggunan baru tepat di tempat yang dahulu pernah dianggap
sebagai lubang kehilangan.**

0 Komentar