Ada sebuah alegori klasik yang kerap memantik rasa getir saat pertama kali melintasi ruang renung kita: ikan yang hidup dari air berakhir matang di dalam air; dedaunan yang menari bersama embusan angin akhirnya tercerabut oleh angin; dan manusia yang berpijak mengais nafkah di atas tanah pada akhirnya tertimbun di perut bumi. Secara kasatmata, tatanan tersebut terbaca seperti sebuah pengkhianatan eksistensial. Kita terburu-buru menghela napas seraya meratapi, "Betapa kejamnya panggung dunia ini."
Namun, kesimpulan yang lahir dari kepedihan sering kali
merupakan produk dari penglihatan yang dangkal. Ketika persepsi kita berhenti
pada lapis permukaan, kita cenderung salah mengalamatkan kesalahan.
Kenyataannya, bukan air yang mencelakakan ikan, melainkan
lidah api yang mendidihkannya dari bawah panci. Bukan desau angin yang tega
memisahkan dedaunan dari rantingnya, melainkan tibanya ketetapan musim yang
menandai usainya siklus klorofil. Begitu pula tanah; ia tidak sedang memangsa
manusia dengan dengki, melainkan takdir kematianlah yang telah menuntaskan masa
kontrak kehidupan jasmani.
Air, angin, dan tanah hanyalah perantara pasif. Kendati
demikian, manusia kerap menumpahkan murkanya kepada wadah perantara, semata
karena enggan mencari sumber penggerak yang sesungguhnya.
Distorsi Nalar dan Budaya Cuci Tangan
Kekeliruan menafsirkan perumpamaan alam ini mencerminkan
cacat logika yang mengakar dalam dinamika mentalitas modern. Manusia memiliki
kecenderungan bawaan untuk memotret akibat tanpa bersusah payah membedah rantai
sebab. Kita menuntut hasil sempurna, tetapi abai terhadap disiplin proses.
Ketika seorang pencari kerja berulang kali tersisih dalam seleksi karir, jeritan pertamanya sering kali menuduh takdir yang tak berpihak atau relasi nepotisme lingkungan, alih-alih mengevaluasi kelayakan kompetensi dan kapasitas diri yang mungkin minim persiapan.
Saat seorang saudagar terperosok ke jurang kebangkrutan, amarahnya segera dialamatkan pada regulasi pasar dan daya beli masyarakat yang loyo, sembari menutup mata dari fakta kekeliruan analisis lokasi serta manajemen likuiditas yang ugal-ugalan.
Demikian pula di
ruang-ruang akademik, mahasiswa yang tertinggal prestasinya gemar mendakwa
pengajarnya kelewat batas, mengaburkan fakta atas kebiasaannya mengabaikan
literatur dan membolos kuliah.
Menyalahkan dunia luar adalah jalan pintas psikologis yang
nyaman. Dengan memvonis bahwa semesta sedang bertindak lalim, ego manusia
terselamatkan dari kewajiban berbenah. Kita merasa terbebas dari rasa bersalah
karena berhasil menempatkan diri sebagai korban tunggal dari sebuah skenario
yang dituduh "tidak adil".
Ketertiban Sunatullah di Balik Kepalsuan Korban
Padahal, semesta tidak pernah beroperasi atas dasar sentimen
kebencian personal. Jagat raya ini berjalan di atas hukum kepastian
(sunatullah) sebuah jejaring kausalitas yang presisi dan mengikat segalanya.
Air pasti akan mendidih jika kalor api diteruskan kepadanya.
Daun mutlak akan mengering saat kelembapan ditarik oleh ritme iklim. Raga fana
pasti terurai kembali menjadi debu ketika embusan nafas telah digenapi
janjinya. Rangkaian fenomena ini bukanlah wujud kekejaman eksistensial,
melainkan ekspresi keteraturan ilahi yang tidak berpihak.
Yang sejatinya kejam adalah kedegilan nalar kita sendiri:
menuntut air tetap dingin di atas nyala bara, atau mengharap dedaunan tetap
hijau abadi di tengah terpaan musim gugur. Kita kerap menginginkan konsekuensi
yang manis, namun terus-menerus menanam benih keputusan yang pahit.
Refleksi moral ini terangkum lugas dalam peringatan wahyu:
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30).
Pesan ini meruntuhkan ilusi viktimisasi diri. Sebagian besar
kepahitan yang menyengat hari ini bukanlah konspirasi semesta untuk
menghancurkan manusia, melainkan akumulasi dari kalkulasi kita yang keliru,
ikhtiar yang setengah hati, serta kealpaan dalam menimbang risiko. Semesta
hanya bertindak adil memantulkan kembali gema dari setiap langkah yang pernah
kita ayunkan kemarin.
Mendamaikan Diri dengan Memperluas Perspektif
Kematangan spiritual dan kejernihan intelektual dimulai pada
titik ketika seseorang berhenti mengutuki keadaan. Kalimat "dunia ini
kejam" semestinya digantikan oleh doa dan kesadaran diri: "Wahai Sang
Pengatur Jiwa, lapangkanlah ruang pemahaman ini, agar mata batin mampu menatap
akar persoalan, bukan sekadar terjebak membenci apa yang tampak di depan
mata."
Ketika horizon nalar kita meluas, gejolak jiwa
berangsur-angsur tenang. Kita tidak akan lagi memusuhi perantara: tak ada
alasan mendendam pada air, tak ada gunanya mencela angin, dan tak pantas
mengutuk tanah. Kita akan belajar menaruh hormat pada kehadiran api,
beradaptasi dengan perputaran musim, dan merendahkan hati di hadapan misteri
kematian.
Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan cara memaksa dunia
mengubah aturannya demi memanjakan kelemahan kita, melainkan dengan menumbuhkan
kedewasaan berpikir: mengakui kesalahan langkah, memperbaiki sebab, dan
bersujud secara tawaduk di hadapan tatanan kebenaran.[]

