Dunia Tak Menikammu, Pilihanmulah yang Menuntun

Nazier
0

 


Ada sebuah alegori klasik yang kerap memantik rasa getir saat pertama kali melintasi ruang renung kita: ikan yang hidup dari air berakhir matang di dalam air; dedaunan yang menari bersama embusan angin akhirnya tercerabut oleh angin; dan manusia yang berpijak mengais nafkah di atas tanah pada akhirnya tertimbun di perut bumi. Secara kasatmata, tatanan tersebut terbaca seperti sebuah pengkhianatan eksistensial. Kita terburu-buru menghela napas seraya meratapi, "Betapa kejamnya panggung dunia ini."


Namun, kesimpulan yang lahir dari kepedihan sering kali merupakan produk dari penglihatan yang dangkal. Ketika persepsi kita berhenti pada lapis permukaan, kita cenderung salah mengalamatkan kesalahan.


Kenyataannya, bukan air yang mencelakakan ikan, melainkan lidah api yang mendidihkannya dari bawah panci. Bukan desau angin yang tega memisahkan dedaunan dari rantingnya, melainkan tibanya ketetapan musim yang menandai usainya siklus klorofil. Begitu pula tanah; ia tidak sedang memangsa manusia dengan dengki, melainkan takdir kematianlah yang telah menuntaskan masa kontrak kehidupan jasmani.


Air, angin, dan tanah hanyalah perantara pasif. Kendati demikian, manusia kerap menumpahkan murkanya kepada wadah perantara, semata karena enggan mencari sumber penggerak yang sesungguhnya.


Distorsi Nalar dan Budaya Cuci Tangan


Kekeliruan menafsirkan perumpamaan alam ini mencerminkan cacat logika yang mengakar dalam dinamika mentalitas modern. Manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk memotret akibat tanpa bersusah payah membedah rantai sebab. Kita menuntut hasil sempurna, tetapi abai terhadap disiplin proses.


Ketika seorang pencari kerja berulang kali tersisih dalam seleksi karir, jeritan pertamanya sering kali menuduh takdir yang tak berpihak atau relasi nepotisme lingkungan, alih-alih mengevaluasi kelayakan kompetensi dan kapasitas diri yang mungkin minim persiapan. 


Saat seorang saudagar terperosok ke jurang kebangkrutan, amarahnya segera dialamatkan pada regulasi pasar dan daya beli masyarakat yang loyo, sembari menutup mata dari fakta kekeliruan analisis lokasi serta manajemen likuiditas yang ugal-ugalan. 


Demikian pula di ruang-ruang akademik, mahasiswa yang tertinggal prestasinya gemar mendakwa pengajarnya kelewat batas, mengaburkan fakta atas kebiasaannya mengabaikan literatur dan membolos kuliah.


Menyalahkan dunia luar adalah jalan pintas psikologis yang nyaman. Dengan memvonis bahwa semesta sedang bertindak lalim, ego manusia terselamatkan dari kewajiban berbenah. Kita merasa terbebas dari rasa bersalah karena berhasil menempatkan diri sebagai korban tunggal dari sebuah skenario yang dituduh "tidak adil".


Ketertiban Sunatullah di Balik Kepalsuan Korban


Padahal, semesta tidak pernah beroperasi atas dasar sentimen kebencian personal. Jagat raya ini berjalan di atas hukum kepastian (sunatullah) sebuah jejaring kausalitas yang presisi dan mengikat segalanya.


Air pasti akan mendidih jika kalor api diteruskan kepadanya. Daun mutlak akan mengering saat kelembapan ditarik oleh ritme iklim. Raga fana pasti terurai kembali menjadi debu ketika embusan nafas telah digenapi janjinya. Rangkaian fenomena ini bukanlah wujud kekejaman eksistensial, melainkan ekspresi keteraturan ilahi yang tidak berpihak.


Yang sejatinya kejam adalah kedegilan nalar kita sendiri: menuntut air tetap dingin di atas nyala bara, atau mengharap dedaunan tetap hijau abadi di tengah terpaan musim gugur. Kita kerap menginginkan konsekuensi yang manis, namun terus-menerus menanam benih keputusan yang pahit.


Refleksi moral ini terangkum lugas dalam peringatan wahyu:


"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30).


Pesan ini meruntuhkan ilusi viktimisasi diri. Sebagian besar kepahitan yang menyengat hari ini bukanlah konspirasi semesta untuk menghancurkan manusia, melainkan akumulasi dari kalkulasi kita yang keliru, ikhtiar yang setengah hati, serta kealpaan dalam menimbang risiko. Semesta hanya bertindak adil memantulkan kembali gema dari setiap langkah yang pernah kita ayunkan kemarin.


Mendamaikan Diri dengan Memperluas Perspektif


Kematangan spiritual dan kejernihan intelektual dimulai pada titik ketika seseorang berhenti mengutuki keadaan. Kalimat "dunia ini kejam" semestinya digantikan oleh doa dan kesadaran diri: "Wahai Sang Pengatur Jiwa, lapangkanlah ruang pemahaman ini, agar mata batin mampu menatap akar persoalan, bukan sekadar terjebak membenci apa yang tampak di depan mata."


Ketika horizon nalar kita meluas, gejolak jiwa berangsur-angsur tenang. Kita tidak akan lagi memusuhi perantara: tak ada alasan mendendam pada air, tak ada gunanya mencela angin, dan tak pantas mengutuk tanah. Kita akan belajar menaruh hormat pada kehadiran api, beradaptasi dengan perputaran musim, dan merendahkan hati di hadapan misteri kematian.


Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan cara memaksa dunia mengubah aturannya demi memanjakan kelemahan kita, melainkan dengan menumbuhkan kedewasaan berpikir: mengakui kesalahan langkah, memperbaiki sebab, dan bersujud secara tawaduk di hadapan tatanan kebenaran.[]

Tags

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default