DAS Rusak dan Ancaman Krisis Air di Era El Niño

Nazier
0

Merawat Alam Tanpa Mematikan Ekonomi Warga

 

Krisis air bersih yang melanda kawasan-kawasan dengan curah hujan relatif tinggi memantik tanda tanya ekologis yang serius. Secara klimatologis, wilayah yang memiliki presipitasi melimpah semestinya memiliki cadangan air tanah yang cukup untuk melewati masa kemarau.


Ketika kekeringan ekstrem tetap terjadi di bentang alam yang subur, akar persoalannya jelas melampaui dinamika cuaca semata ia berakar pada degradasi sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) yang telah kehilangan kemampuan menahan air.


Pakar Hidrologi dan Pengelolaan DAS, Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, menjelaskan bahwa persoalan krisis air bermuara pada dua faktor penentu: lonjakan konsumsi yang melampaui kapasitas ketersediaan alamiah, atau rusaknya struktur hidrologis DAS itu sendiri.


"Kunci utama dalam tata kelola DAS bertumpu pada pengelolaan neraca air, yakni menjaga keseimbangan antara volume air yang masuk, air yang tersimpan di dalam tanah, serta jumlah air yang dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan produktif mulai dari sektor pertanian, perikanan, industri, hingga pemenuhan kebutuhan domestik warga," paparnya.


Anatomi Hulu yang Rusak: Saat Tanah Kehilangan Daya Serap


Dalam bentang alam yang sehat, kawasan hulu yang kaya vegetasi pohon berfungsi selayaknya busa atau spons alami. Rimbunnya kanopi hutan menahan laju jatuhan air hujan, membantu peresapan air ke dalam pori-pori tanah (infiltrasi), dan menyimpannya sebagai cadangan akuifer dalam. 


Simpanan air tanah inilah yang perlahan mengalir ke mata air, sumur-sumur penduduk, serta menjaga debit aliran dasar sungai (baseflow) tetap stabil sepanjang musim kemarau.


Sebaliknya, alih fungsi lahan hulu menjadi kawasan permukiman, infrastruktur komersial, dan lahan budidaya monokultur terbuka telah merusak mekanisme penyerap tersebut. Tanpa perakaran pepohonan yang kuat, tanah kehilangan kapasitas retensi hidrologisnya.


Dampaknya memicu pola bencana ganda yang paradoksal: air hujan langsung berubah menjadi limpasan permukaan (surface runoff) yang memicu luapan banjir bandang saat musim basah, namun langsung terbuang ke laut dan menyisakan kekeringan parah saat musim kemarau tiba.


Tekanan terhadap sistem penyimpan air alami ini sejalan dengan tren degradasi air tanah global. Merujuk kompilasi sistematis atas 63 studi internasional periode 2014–2024 yang dirilis di ResearchGate, pengisian ulang air tanah global tercatat menyusut rata-rata 14,6 ± 5,6 milimeter per tahun. 


Kombinasi perluasan area terbangun yang kedap air serta tingginya laju ekstraksi air tanah memicu ancaman penurunan daya simpan air hingga 60 persen pada tahun 2100 akibat variabilitas pola hujan ekstrem.


Bukan Lagi Kejadian Langka, El Niño Adalah Realitas Baru


Kondisi ekosistem yang rapuh semakin diperburuk oleh interaksi iklim global. Fenomena El Niño pemanasan suhu muka laut di atas normal di wilayah Pasifik tengah dan timur kerap memicu musim kemarau yang lebih terik, kering, dan berlangsung lebih panjang. Kendati demikian, Hatma mengingatkan bahwa dinamika iklim ini semestinya tidak lagi disikapi sebagai kejutan musiman.


"Masyarakat dan pembuat kebijakan perlu merombak sudut pandang lama. Fenomena iklim seperti El Niño bukan lagi peristiwa anomali yang langka, melainkan telah menjadi bagian dari sebuah kenormalan baru dalam dinamika iklim global saat ini," tegasnya.


Kerentanan ini ditegaskan pula dalam laporan organisasi pangan dunia FAO melalui publikasi The State of the World's Land and Water Resources for Food and Agriculture (SOLAW). Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa kerusakan struktur tanah dan rusaknya ekosistem perairan memperlemah ketahanan sektor pangan terhadap ancaman kekeringan hidrologis. Dampaknya merembet luas, memicu kegagalan panen, penurunan pasokan pangan, hingga gangguan stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.


Melampaui Truk Tangki: Menabung Air Lewat Infrastruktur Hijau


Dalam situasi darurat ketika sumur-sumur warga mengering, distribusi air bersih menggunakan armada truk tangki merupakan langkah penyelamatan jangka pendek yang mutlak dilakukan. Akan tetapi, respons ini sekadar memadamkan gejala di permukaan tanpa menyentuh sumber masalah.


Solusi jangka panjang menuntut pemulihan fungsi resapan hulu secara terencana. Pendekatan ini selaras dengan arahan Integrated Drought Management Programme milik Badan Meteorologi Dunia (WMO) serta rekomendasi Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), yang menempatkan konservasi tanah dan air berbasis DAS sebagai bagian dari infrastruktur hijau (green infrastructure).


Secara teknis, pemulihan ketahanan air tersebut memadukan tindakan ekologis dan rekayasa sipil:


Rehabilitasi Lahan Kritis: Mengembalikan tutupan vegetasi kayu di wilayah tangkapan air guna memulihkan pori-pori tanah dan kapasitas infiltrasi alami.


Pemanenan Air Hujan (Rainwater Harvesting): Membangun jaringan sumur resapan, biopori, embung, dan kolam retensi agar air hujan sempat meresap ke lapisan tanah sebelum mengalir bebas ke hilir.


Pemeliharaan Jaringan Tata Air: Melakukan pengerukan sedimentasi pada saluran irigasi primer dan sekunder secara berkala agar debit air untuk kebutuhan pertanian dan sanitasi tetap terdistribusi merata.


Merawat Alam Tanpa Mematikan Ekonomi Warga


Penyelamatan ekosistem air tidak dapat bertumpu semata pada regulasi pemerintah. Pengelolaan DAS yang berkelanjutan menuntut kesadaran kolektif dari para petani, sektor industri pengguna air, serta masyarakat secara luas untuk menerapkan efisiensi penggunaan air dan menghentikan pencemaran sungai.


Konservasi lingkungan juga terbukti dapat berjalan langgeng jika diselaraskan dengan kesejahteraan ekonomi masyarakat di kawasan hulu. 


Penerapan sistem wanatani (agroforestry) seperti penanaman tanaman peneduh bernilai ekonomi tinggi, budidaya tanaman rempah di bawah tegakan pohon, hingga peternakan lebah madu menjadi bukti konkret bahwa menjaga fungsi hutan sebagai resapan air dapat berjalan beriringan dengan mata pencaharian warga. Melalui pendekatan terpadu ini, cadangan air tetap terjaga, dan ketahanan hidup masyarakat menghadapi perubahan iklim tetap kokoh.[]

Tags
  • Lebih baru

    DAS Rusak dan Ancaman Krisis Air di Era El Niño

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default