SEJARAH sering kali mengajarkan bahwa keruntuhan sebuah peradaban jarang bermula dari invasi musuh di seberang lautan. Kehancuran sejati justru kerap kali lahir dari dalam, merayap perlahan melalui retakan-retakan moral dan hilangnya rasa saling percaya di antara warganya sendiri. Saat ini, kita dihadapkan pada sebuah autokritik yang pahit namun tak terhindarkan: jangan-jangan, kita telah menjelma menjadi neraka bagi negara kita sendiri.
Coba kita amati ruang publik kita hari ini. Di atas panggung
nyata maupun panggung digital, kita terjebak dalam keriuhan kata-kata yang tak
pernah usai. Namun, alih-alih menjadi ruang dialog yang mencerdaskan dan
membangun, kata-kata kini telah menyusut fungsinya menjadi senjata untuk saling
melukai. Kita hidup dalam era di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh
suara siapa yang paling keras. Saling hantam opini, caci maki, dan narasi
kebencian telah menjadi sarapan harian yang menumpulkan empati kita sebagai
sesama anak bangsa.
Di balik layar pertikaian horizontal tersebut, ironi yang
lebih besar sedang bekerja. Ada budaya memanipulasi dan memanfaatkan yang kini
seolah dinormalisasi dalam berbagai sendi kehidupan. Elit memanipulasi narasi
untuk mengamankan kekuasaan, sementara masyarakat di akar rumput tak jarang
saling memanfaatkan demi bertahan hidup atau sekadar mengejar keuntungan
instan. Manusia direduksi menjadi sekadar angka, suara konstituen, atau alat
tawar-menawar ekonomi. Saat ego dan pragmatisme mengambil alih kendali,
kepentingan kolektif sebagai sebuah bangsa pun terkoyak dan terbuang ke pinggir
jalan.
Melihat realitas yang muram ini, sebuah pertanyaan
fundamental menyeruak dari relung batin kita yang paling dalam: Di mana surga
yang dijanjikan?
"Surga" di sini bukanlah sebuah konsep teologis
semata, melainkan metafora dari cita-cita luhur pendiri bangsa. Surga itu
adalah janji tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat, kemerdekaan yang
sejati, kesejahteraan yang merata, dan persatuan yang kokoh. Dulu, janji inilah
yang menyatukan jutaan manusia berbeda suku dan agama untuk berdiri di bawah
satu bendera yang sama.
Namun, kita lupa bahwa surga kebangsaan itu tidak diturunkan
dari langit layaknya hadiah. Ia harus dibangun dengan keringat, integritas, dan
kejujuran. Bagaimana mungkin kita bisa menagih janji tentang kesejahteraan dan
kedamaian, jika tangan kita sendiri sibuk menyalakan api permusuhan? Bagaimana
mungkin kita bisa menuntut keadilan, jika kita sendiri terus melanggengkan
praktik manipulasi dalam kehidupan sehari-hari?
Pada akhirnya, ini adalah sebuah ketukan nurani. Sudah
saatnya kita berhenti menunjuk hidung orang lain atau menyalahkan keadaan
semata. Kesadaran kolektif harus segera dibangun bahwa negara ini adalah kapal
besar tempat kita semua bernaung. Jika kita terus-menerus melubangi lambung
kapal ini dengan egoisme, kebencian, dan kebohongan, maka kita sendirilah yang
akan menenggelamkannya.
Surga yang dijanjikan itu masih ada, menunggu untuk diwujudkan. Namun jalan menuju ke sana hanya bisa terbuka ketika kita memutuskan untuk berhenti menjadi neraka bagi satu sama lain. Kita harus kembali belajar menjadi manusia yang memanusiakan manusia, meletakkan kembali kebenaran di atas manipulasi, dan mengganti caci maki dengan karya yang berarti. Hanya dengan begitu, janji kebangsaan kita dapat diselamatkan dari jurang kehancuran.**

0 Komentar