Merawat Akar Tradisi di Tanah Rencong: Harmonisasi Spiritualitas dan Kesenian Rakyat pada Perayaan Maulid


BAGI masyarakat Aceh, perayaan maulid (peuringet uroe lahe Nabi) bukan sekadar pengulangan kalender keagamaan. Di tingkat gampong, perayaan ini menjelma menjadi ruang perjumpaan yang intim antara ritus keagamaan yang sakral dan ekspresi kebudayaan lokal yang hidup. Realitas tersebut tampak nyata di Gampong Pulo Gajah Mate, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie.

Alunan puji-pujian kepada Rasulullah SAW bersanding dengan tabuhan perkusi rapai yang ritmis, menghadirkan denyut kebersamaan yang tidak hanya dinikmati oleh warga setempat, melainkan juga memikat masyarakat dari desa-desa tetangga di sekitarnya.

Perhelatan ini menunjukkan bahwa ruang komunal pedesaan masih memiliki daya tahan budaya yang kokoh dalam merawat nilai-nilai keislaman sekaligus melestarikan tradisi warisan leluhur.

Simfoni Religi dan Denting Perkusi Tradisional

Nuansa spiritual terbangun secara bertahap melalui penampilan sejumlah kelompok zikir pesantren. Kelompok Zikir Dayah Almuslim Yaitun Simpang Tiga membuka rangkaian acara dengan lantunan puji-pujian yang khidmat, mengajak hadirin merenungkan kembali keteladanan budi pekerti Nabi Muhammad SAW.

Kekhidmatan tersebut berlanjut lewat lantunan syair dari Group Zikir Laskar Thaliban Dayah Tgk Chiek di Coh. Figur pegiat dakwah seperti Tgk. Muhammad Rafi dan Tgk. Putra tampil memimpin irama zikir yang membangkitkan keharuan serta kedekatan batin para jamaah terhadap sejarah kenabian.

Kekhasan tradisi Aceh kian terpancar saat malam tiba melalui penampilan Sanggar Putra Barona Bate. Tabuhan rapai yang dipimpin oleh Bg Joni bersama para penabuh sanggar menyuguhkan formasi irama yang dinamis dan berenergi. Kehadiran rapai di tengah ritual keagamaan ini memiliki fungsi sosial yang penting: ia menjadi media pemersatu warga lintas generasi sekaligus wahana merawat kesenian instrumen kulit agar tidak terasing dari ingatan kaum muda.

Mimbar Pengetahuan dan Keindahan Sastra Islami

Perayaan Maulid di Pulo Gajah Mate tidak membatasi diri pada pertunjukan seni bunyi semata. Aspek literasi keagamaan dan penguatan wawasan masyarakat turut menjadi bagian sentral.

Pada sesi ceramah, masyarakat menyimak siraman rohani yang disampaikan oleh dai asal Arakundoe, Ustaz Asnawi. Pesan-pesan dakwah yang disajikan berfokus pada aktualisasi akhlak mulia dalam menjawab persoalan sosial harian, menjaga kerukunan antartetangga, dan memperkuat integritas pribadi.

Panggung peringatan ini kian lengkap dengan tilawah Al-Qur’an yang dilantunkan merdu oleh Tgk. Muhammad Nasir dari Pekan Baro, serta lantunan kasidah bernada syahdu yang dibawakan oleh Tgk. Agusriandi asal Padang Gampong Blang Mangki. Kehadiran pembaca ayat suci, dai, dan pelantun kasidah ini mengubah pelataran meunasah menjadi pusat kebudayaan Islam yang inklusif bagi seluruh lapisan usia.

Inkubasi Karakter dan Estafet Kaum Muda

Keberhasilan agenda komunal ini tidak terlepas dari peran aktif generasi muda gampong yang bertindak sebagai motor penggerak. Di bawah kepemimpinan panitia pelaksana seperti Bg Adi Mudriki, Arkarari, dan Tgk. Mursyidin, para pemuda mengelola teknis acara sejak perencanaan logistik, penataan panggung, hingga koordinasi ketertiban.

Geusyik Gampong Pulo Gajah Mate menjelaskan bahwa perayaan maulid di desanya sengaja dirancang secara berjenjang. Puncak acara didahului oleh serangkaian kompetisi edukatif bagi anak-anak dan remaja, mencakup lomba azan, hafalan surat-surat pendek, hingga cerdas cermat pengetahuan agama.

"Peringatan maulid di gampong kami merupakan agenda tahunan yang diawali perlombaan keagamaan bagi generasi belia. Ini adalah cara kami memberi panggung bagi anak-anak untuk belajar, tampil percaya diri, dan mencintai lingkungan meunasah sejak dini," tutur sang Geusyik.

Pendekatan ini membuktikan bahwa tradisi dapat bertahan bukan karena dipaksakan, melainkan karena generasi penerus dilibatkan secara langsung sebagai pengelola dan pemilik sah dari tradisi tersebut.

Kearifan Lokal Penjaga Harmoni Sosial

Secara sosiologis, apa yang berlangsung di Pulo Gajah Mate mencerminkan filosofi hidup masyarakat Aceh yang merangkum agama dan adat sebagai kesatuan utuh: hukom ngon adat lagee zat ngon sifeut (syariat dan adat laksana wujud dan sifat yang tak terpisahkan). Seni rapai, alunan kasidah, dan bait zikir menjadi bahasa kultural yang menampung pesan-pesan transendental.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi yang kerap mengikis ruang interaksi tatap muka, perayaan maulid gampong berfungsi sebagai medium perekat sosial (social glue). Dari sudut kampung di Simpang Tiga ini, tersirat pesan universal bahwa kemajuan peradaban tidak harus mematikan akar sejarah. Merawat persaudaraan dan mencintai tradisi lokal adalah benteng paling andal dalam menjaga kemanusiaan kita tetap utuh.[]

Sumber: POTRET

Posting Komentar

0 Komentar