DALAM panggung peradaban manusia, kekuasaan dan kedudukan selalu menjadi magnet yang memiliki daya pikat luar biasa. Sejak zaman kuno hingga era birokrasi modern, hierarki kedudukan—mulai dari posisi terendah hingga takhta tertinggi—hampir tidak pernah sepi dari perburuan. Ada yang mengejarnya dengan niat luhur menegakkan keadilan dan melayani kemanusiaan, namun jauh lebih banyak yang menjadikannya sasaran demi memuaskan dahaga eksistensial: rasa lapar akan sanjungan, dahaga status sosial, serta hasrat menumpuk materi.
Kekuasaan kerap kali dipandang sebagai jalan pintas meraih
privilese. Di balik selembar surat keputusan pengangkatan, terbayang deretan
fasilitas yang menggiurkan: tunjangan berlimpah, kendaraan dan rumah dinas,
pengawalan protokoler, hingga peluang mengarahkan anggaran demi kepentingan
pribadi dan kroni. Lingkaran kekuasaan menciptakan ilusi bahwa sang pemangku
jabatan adalah figur istimewa yang senantiasa dihormati ke mana pun melangkah.
Namun, sejarah berulang kali memperlihatkan paradoks yang
getir. Jabatan yang diburu dengan nafsu kerap kali menjadi lorong gelap yang
mengantarkan pemiliknya menuju jurang kehancuran moral dan sosial.
Anatomi Pelangi dan Ilusi Kemewahan
Segala kemewahan yang melekat pada atribut kekuasaan
sejatinya tidak lebih dari bentangan fatamorgana di padang pasir atau lengkung
pelangi (buleuen raja timoh) di ufuk langit. Dari kejauhan, warnanya tampak
begitu mempesona dan menjanjikan kebahagiaan paripurna. Namun begitu didekati
dan hendak digenggam, ia menguap tak berwujud, meninggalkan kekosongan batin
yang semakin menganga.
Tragisnya, demi mengejar ilusi visual tersebut, banyak orang
rela menanggalkan akal sehat dan batas-batas moralitas. Praktik suap-menyuap,
manipulasi politik, intrik kotor, hingga pengkhianatan terhadap kawan maupun
keyakinan dianggap sebagai ongkos lumrah yang harus dibayar. Akibatnya sudah
terlampau sering tersaji di hadapan publik: para pemburu jabatan yang berakhir
di balik jeruji besi lembaga antirasuah, terhempas dalam aib sosial, kehilangan
martabat di hadapan anak-cucu, bahkan meregang nyawa secara mendadak di tengah
puncak kenikmatan semu.
Kebutaan ini berakar dari kecenderungan manusia yang lebih
memuliakan pandangan mata ketimbang kejernihan data dan nurani. Manusia modern
kerap memperbudak diri pada apa yang tampak gemerlap secara lahiriah (hawa
nafsu), sembari mengabaikan sinyal peringatan iman yang bersemayam di dalam
dada.
Tekanan Sosial dan Krisis Pengakuan
Kekacauan cara pandang ini kian diperparah oleh konstruksi
sosial yang sakit. Lingkungan masyarakat, bahkan unit keluarga terdekat, kerap
kali menggunakan standar materialistik dalam menakar keberhasilan seseorang.
Sosok yang teguh memegang integritas, memilih jalan sunyi
yang bersih, serta menolak berkompromi dengan kecurangan sering kali dipandang
sebelah mata. Sindiran bahwa "sekolah tinggi namun tak punya jabatan"
menjadi racun sosial yang melukai nurani mereka yang istikamah. Ketika keluarga
lebih mengagumi atribut seragam dinas ketimbang kebersihan moral, integritas
pun perlahan terasingkan di rumahnya sendiri.
Di sinilah letak pertarungan abadi antara akidah dan
pragmatisme kekuasaan. Situasi ini layaknya seseorang yang dihadapkan pada dua
cawan: cawan berisi madu kejujuran di tangan rakyat jelata yang bersahaja, atau
cawan berisi racun manis di tangan penguasa korup yang menawarkan konsesi
proyek dan jejaring kekayaan.
Akal budi yang sehat tentu menuntun pada madu, meski setelah
meminumnya tidak ada jaminan limpahan harta duniawi. Sebaliknya, nafsu yang
serakah akan memilih racun bersalut emas, tergiur oleh keuntungan instan dan
kenikmatan subyektif yang menghancurkan jiwa secara perlahan.
Gagal Kelola Amanah dan Jebakan Hubbud Dunya
Ketika kepemimpinan publik dipegang oleh figur-figur yang
menempatkan jabatan di atas keyakinan etis, kerusakannya meluas ke tingkat
peradaban. Pemimpin yang memenangi kontestasi melalui utang budi kepada para
pemodal dan oligarki akan terbelenggu menjadi boneka kebijakan.
Hukum kemudian digunakan secara selektif: garang terhadap
para pengkritik dan ulama yang lurus, namun tumpul terhadap para pendengung dan
pembela kekuasaan. Negara yang kaya raya dengan sumber daya alam justru
menempatkan rakyat aslinya sebagai penonton yang termarjinalkan, miskin di
tanah tumpah darahnya sendiri, sementara kebijakan ekonomi didikte oleh
kepentingan pemodal luar.
Kondisi ketidakberdayaan ini mengonfirmasi peringatan klasik
yang telah disuarakan belasan abad silam: sindrom al-wahn, yakni penyakit akut
berupa cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya) dan takut menghadapi kematian
(karahiyatul maut). Ketika mayoritas manusia telah terjangkit penyakit mental
ini, mereka kehilangan harga diri dan daya tawar, terombang-ambing layaknya
buih di tengah lautan yang mudah diterjang ombak.
Mengembalikan Hakikat Kepemimpinan
Kekuasaan dalam perspektif etika profetik bukanlah mahkota
untuk berbangga diri, melainkan beban amanah yang berat dan menakutkan. Posisi
manajerial atau kepemimpinan politik hanya memiliki nilai kebaikan apabila ia
mampu menjadi instrumen penyelamat martabat manusia, sarana membela kaum yang tertindas,
serta wasilah untuk menegakkan keadilan dan kemakmuran sosial.
Kehormatan seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh
merek mobil dinas yang ditungganginya, luasnya ruang kantor yang ditempatinya,
atau banyaknya pengawal yang membungkuk di depannya. Kehormatan sejati berakar
dari keberanian moral untuk menolak racun kompromi, kejernihan nurani untuk
tidak menjual keyakinan demi pangkat, serta ketenangan batin karena hidup di
atas rezeki yang bersih.
Menjelang akhir hayat kelak, seluruh kemilau jabatan akan
ditanggalkan tanpa sisa. Yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban mutlak di
hadapan Sang Pemilik Kerajaan yang sesungguhnya: apakah jabatan itu dulu
digunakan sebagai jembatan kebaikan, ataukah menjadi tiket menuju kebinasaan
abadi.

0 Komentar